Kamis, 14 Mei 2026

Usai Rebalancing MSCI, BEI Perkuat Reformasi Pasar Modal

Penulis : Indah Handayani
14 Mei 2026 | 09:16 WIB
BAGIKAN
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Jeffrey Hendrik
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Jeffrey Hendrik

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan fokus utama pasar modal Indonesia saat ini bukan mengejar penilaian indeks global semata, melainkan memperkuat reformasi, transparansi, dan integritas pasar agar tetap kompetitif di mata investor global.

Penegasan tersebut disampaikan Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers perkembangan pasar modal Indonesia pasca pengumuman rebalancing MSCI di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurut Jeffrey, pernyataan terbaru MSCI justru dipandang sebagai sentimen positif karena mampu mengurangi ketidakpastian pasar di tengah tingginya volatilitas global akibat gejolak geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga pergerakan mata uang dunia.

ADVERTISEMENT

“Pernyataan MSCI menjadi perkembangan positif karena dapat mengurangi salah satu unsur ketidakpastian di pasar,” ujar Jeffrey dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Terkait hasil MSCI Review May 2026 dan metodologi free float, Jeffrey menegaskan, setiap global index provider memiliki metodologi masing-masing yang berbasis faktor kuantitatif dan harus dihormati. Karena itu, BEI memilih fokus memperkuat fundamental dan mekanisme pasar yang teratur, wajar, serta efisien dibanding melakukan rekayasa terhadap penilaian indeks.

“Fokus kami adalah penguatan reformasi dan mekanisme pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bukan engineering terhadap penilaian indeks,” tegasnya.

Jeffrey menambahkan, langkah tersebut diharapkan mampu mendorong perusahaan tercatat Indonesia memenuhi ketentuan indeks global secara alami melalui penguatan kualitas pasar domestik.

Stabilitas Terjaga

Sementara itu. regulator juga memastikan perdagangan saham domestik masih berlangsung terkendali tanpa indikasi panic selling pasca pengumuman MSCI.

Stabilitas pasar tercermin dari frekuensi dan volume transaksi yang relatif terjaga di tengah dinamika pasar global. Pelemahan pasar yang terjadi dinilai sebagai bagian dari proses penyesuaian portofolio investor global yang sebelumnya telah diantisipasi.

Di sisi lain, keluarnya sejumlah emiten dari indeks MSCI Global Small Cap dinilai mencerminkan potensi peningkatan kapitalisasi pasar, meski promosi ke indeks yang lebih tinggi masih tertunda akibat kebijakan freeze MSCI terhadap penambahan konstituen baru dari Indonesia.


 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 13 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 42 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia