Kamis, 14 Mei 2026

Tren Konsumsi Makanan Sehat Terus Meningkat

Penulis : Mardiana Makmun
12 Feb 2025 | 22:49 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi minuman sehat menggunakan gula dari tanaman stevia
Ilustrasi minuman sehat menggunakan gula dari tanaman stevia

JAKARTA, investor.id – Kesadaran masyarakat pada pentingnya gizi seimbang semakin tinggi. Hal ini mendorong tren konsumsi makanan sehat terus meningkat.

“Sudah beberapa tahun ini, apalagi dipicu pandemi Covid 19, tren konsumsi makanan dan minuman sehat semakin meningkat. Salah satunya kesadaran mengurangi konsumsi gula yang menjadi penyebab obesitas dan diabetes,” kata pendiri Beeru Indonesia, Ruth Ayu kepada Investor Daily di acara ‘Ramadan Bareng Tiktok’ di Jakarta, Selasa (11/2/2025).

Ruth mengungkapkan, pada Ramadan 2024, tren konsumsi makanan sehat yang terlihat dari penjualan pemanis stevia produksi Beeru Indonesia, meningkat tiga lipat. “Penjualan pemanis stevia meningkat tiga kali lipat pada Ramadan 2024,” ungkap Ruth.

ADVERTISEMENT

Ruth menerangkan, dibandingkan gula dari tebu, pemanis stevia nol kalori. “Selain nol kalori, pemakaian setetes saja sudah bisa membuat segelas teh berasa manis, sedangkan gula biasanya butuh satu sendok makan,” ujar Ruth yang memanfaatkan platform media sosial Tiktok.

Ruth optimistis, Ramadan 2025, tren konsumsi makanan sehat akan meningkat seiring semakin banyaknya masyarakat yang teredukasi pada gaya hidup sehat. Optimisme ini juga diungkapkan Noor Lisa Amalia, pemilik keripik sayur dan buah-buahan Apelicious. “Jelang Ramadan biasanya penjualan keripik sayur dan buah meningkat 40%,” ungkap Noor.

Konten Menarik

Peningkatan penjualan produk makanan sehat tersebut disebabkan berbagai faktor. Selain kesadaran gaya hidup sehat masyarakat yang meningkat, faktor lainnya adalah penggunaan konten menarik sebagai strategi penjualan.

Public Policy and Government Relations, TikTok Indonesia, Marshiella Pandji, mengungkapkan, studi TikTok bersama Toluna memaparkan bahwa Ramadan menjadi momen penting bagi pelaku UMKM. Konten hiburan menjadi favorit, dimana hampir satu juta video baru dibuat sepanjang Ramadan tahun lalu. Bahkan, 45% pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di TikTok, dan banyak di antaranya terinspirasi untuk membeli produk setelah melihatnya.

“Tren perilaku pengguna ini bisa dimanfaatkan dengan strategis oleh UMKM untuk meningkatkan penjualan,” ujar Marsheilla.

Tahun 2025 ini, para UMKM, kata Marsheilla bisa mengikuti pelatihan bisnis gratis pada program #MajuBarengTikTok bertema ‘Ramadan Bareng TikTok’ untuk semakin meningkatkan penjualan.

Beberapa tips yang dibagikan pada pelatihan tersebut antara lain, melakukan pendekatan shoppertainment (menggabungkan hiburan dengan penjualan) sebelum bulan puasa, memenangkan momen puncak dengan solusi pemasaran yang lengkap, promosi saat lebaran, serta tetap menjaga relevansi paska-Ramadan mengingat 1 dari 2 pengguna tetap berbelanja bahkan setelah hari raya.

Marsheilla mengungkapkan keberhasilan Beeru setelah mengikuti program tersebut. Beeru berhasil mencatat penjualan hingga tiga kali lipat selama Ramadan 2024. Peningkatan minat beli ini memungkinkan Beeru menambah timnya hingga 4 kali lipat, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Sedangkan Apelicious memilih untuk fokus pada platform digital seperti TikTok setelah mengalami kesulitan di toko offline, sehingga akhirnya produk mereka semakin dikenal luas. Dengan meningkatkan anggaran iklan di TikTok sebesar 20% saat Ramadan tahun lalu, Apelicious berhasil meningkatkan volume penjualan hingga 40% dibandingkan 30 hari sebelum Ramadan.

Marsheilla memaparkan, sejak diumumkan di TikTok Southeast Asia Impact Forum 2023, total kredit iklan yang diberikan pada tahun 2024 telah meningkat lebih dari enam kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. “Kredit iklan ini disalurkan ke 10 lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, mitra industri, dan LSM untuk meningkatkan distribusi konten edukasi untuk UMKM, serta membantu mereka memanfaatkan peluang bisnis saat adanya momentum seperti Ramadan,” ujar Marsheilla.

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 2 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 31 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia