Kamis, 14 Mei 2026

ISEAI: Rupiah Rp 17.500, Ancaman “Normal Baru” Ekonomi RI

Penulis : Arnoldus Kristianus
13 Mei 2026 | 19:04 WIB
BAGIKAN
Petugas kasir menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)/
Petugas kasir menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)/

JAKARTA, investor.id – Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) memperingatkan pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dapat menjadi “normal baru” jika pemerintah gagal melakukan reformasi struktural ekonomi.

Pengamat Ekonomi ISEAI, Ronny P Sasmita, mengatakan bahwa pelemahan rupiah sejak awal 2026 bukan semata-mata akibat lemahnya respons teknis Bank Indonesia (BI), melainkan dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik. Kondisi tersebut perlu menjadi alarm serius bagi pengelola kebijakan ekonomi nasional.

“Kegagalan Bank Indonesia dalam menahan pelemahan ini bukan semata-mata karena ketidakmampuan teknis, melainkan karena besarnya kekuatan eksternal yang menghantam fundamental domestik yang memang sudah rapuh,” ujar Ronny dalam pernyataan resmi yang diterima, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menilai, tanpa transformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan impor energi dan memperbaiki iklim investasi pasar modal, level Rp 17.500 per dolar AS berpotensi menjadi titik keseimbangan baru yang merugikan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pada perdagangan Rabu sore, rupiah ditutup menguat 53 poin ke level Rp 17.475 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.528 per dolar AS. Namun, posisi tersebut masih jauh di bawah asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Ronny menjelaskan, tren pelemahan rupiah sebenarnya telah berlangsung sejak akhir 2025. Sepanjang tahun lalu, rupiah bergerak di kisaran rata-rata Rp 16.475 per dolar AS sebelum tekanan meningkat menjelang pergantian tahun.

ISEAI: Rupiah Rp 17.500, Ancaman “Normal Baru” Ekonomi RI
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Memasuki Januari 2026, rupiah melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS seiring keluarnya aliran modal asing (capital outflow) sebesar US$1,6 miliar dalam waktu kurang dari tiga pekan. Tekanan semakin besar pada kuartal II-2026 ketika rupiah menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS pada awal April. Menurut Ronny, kondisi itu menjadi sinyal bahwa intervensi BI mulai menghadapi keterbatasan efektivitas.

“Meskipun sempat terjadi penguatan teknis selama beberapa hari pada awal Mei, sentimen negatif kembali mendominasi pasar hingga akhirnya mencatatkan pelemahan terdalam di level Rp 17.425 pada 5 Mei 2026, sebelum akhirnya menyerah pada tekanan pasar dan menembus Rp 17.505 pada 12 Mei 2026,” jelasnya.

Dari sisi domestik, ISEAI menilai struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia juga belum cukup kuat menopang stabilitas rupiah. Meski ekonomi triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, termasuk penyaluran THR dan bantuan sosial.

Empat Rekomendasi

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 38 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 39 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 50 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia