Kamis, 14 Mei 2026

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun

Penulis : Lona Olavia / Tri Listiyarini
26 Apr 2021 | 11:49 WIB
BAGIKAN
Pialang memperhatikan pergerakan harga saham di sebuah sekuritas di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Pialang memperhatikan pergerakan harga saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

JAKARTA, investor.id – Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menilai, mayoritas saham bluechips masih berada pada zona undervalued. Hal ini dikarenakan saham-saham tersebut masih diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi 5 tahun mereka dan juga masih memiliki prospek pertumbuhan kinerja yang baik seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Hal ini karena transaksi di bursa yang sedang tertekan, volume sepi akibat aksi wait and see beberapa investor, akibat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi turun di tahun ini, serta kembali naiknya kasus Covid-19 di beberapa negara di dunia,” ujarnya kepada Investor Daily, Minggu (25/4).

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani

Menurut dia, beberapa contoh saham emiten yang masih masuk dalam kategori undervalued adalah BMRI dan BBNI. Selain itu ada TLKM, ASII, ICBP, INDF, UNTR, KLBF.

Dia mengatakan, target price (TP) untuk saham BBNI di Rp 8.000, BMRI Rp 7.300, TLKM Rp 4.100, ASII Rp 6.600, ICBP Rp 12.900, INDF Rp 9.450,UNTR Rp 26.600, dan KLBF Rp 1.785.

ADVERTISEMENT

“Untuk yang paling banyak dikumpulkan asing selama satu minggu terakhir adalah ASII, TLKM, UNTR, dan INDF,” katanya.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Pergerakan IHSG Januari 2020-23 April 2021

Saham-saham bluechips, diyakini Hendriko sudah pasti bisa rebound, apabila kasus Covid-19 sudah kembali mereda, keadaan ekonomi sudah membaik, serta emiten-emiten bluechips ini membukukan kinerja sesuai ekspektasi investor atau bahkan lebih tinggi dari ekspektasi investor.

Dihubungi terpisah, Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengatakan, jika melihat kondisi pergerakan IHSG beberapa pekan lalu yang cenderung ter tahan, memang ada beberapa saham bluechips yang cukup menarik saat ini karena undervalued, beberapa di antaranya seperti TLKM, UNVR, BMRI, BBRI, SMGR, dan PGAS.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya

Dia menjelaskan, penyebab penurunan beberapa saham bluechips ini sejalan dengan pergerakan IHSG yang cenderung melemah yang disebabkan sentimen negatif dari global maupun dari dalam negeri.

Dari global, lanjut dia, sentiment negatif datang dari peningkatan kembali kasus virus Covid-19 di dunia yang memicu lockdown bisa kembali mempengar uhi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, rencana kenaikan pajak dua kali lipat di Amerika Serikat (AS) juga turut mendorong aksi jual di AS, serta distribusi vaksin yang berpotensi tidak merata menambah sederet sentimen penggerak indeks global.

Sementara dari dalam negeri, beberapa pemicu pelemahan indeks adalah penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 oleh Bank Indonesia (BI), rencana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek mengurangi investasi di saham dan reksa dana hingga kasus virus yang berpotensi kembali meningkat dan larangan mudik.

“Jika melihat saham bluechips dengan faktor-faktor itu, dengan kondisi keuangannya yang cenderung stabil dan prospek bisnis yang masih positif sangat memungkinkan untuk kembali menguat,” jelas Anissa.

Dia mencontohkan saham TLKM yang secara fundamental cukup kuat dan secara prospek bisnis pun masih menarik. Apalagi, emiten telekomunikasi pelat merah itu baru-baru ini memenangkan lelang frekuensi untuk persiapan jaringan 5G, dan juga rencana anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) yang akan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

Jika dilihat dari net buy investor asing selama sepekan lalu, dia menilai saham yang banyak dikoleksi di antaranya adalah BBRI, BMRI MDKA, LINK, dan BBNI.

“Beberapa saham bluechips yang masih kami jagokan TLKM (target price/ TP 4.000), JPFA (TP 2.500), TOWR (TP 1.300), dan SMGR (TP 15.700),” sebut Anissa.

Senada, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga melihat ada beberapa saham bluechips yang undervalued.

Dia menyebut saham PGAS, UNVR, SMGR, BBNI, HMSP, GGRM, INDF, ICBP, PTPP, dan MYOR.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee

Menurut Hans, hal tersebut terjadi karena tidak semua industri pulih cepat dari pandemi. Namun, Hans meyakini saham-saham bluechips tersebut akan rebound dipicu dampak pembukaan ekonomi dan normalisasi sesudah Covid- 19, serta stimulus dari pemerintah.

”Laba emiten turun sehingga harga belum pulih. Seiring pemulihan pandemi, pemulihan ekonomi dan laba emiten pun akan naik,” ucap dia.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Perkembangan saham Bluechips

Sementara itu, Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus mengatakan, saham dikatakan undervalued tergantung dari sisi mana memandangnya. Bisa saja harga saham overvalued secara jangka pendek, tapi undervalued secara jangka panjang.

”Kita tidak bisa memutuskan apakah bluechips itu mahal dan murah, karena variabel untuk menghitung mahal dan murah pun juga cukup banyak dan beragam. Tapi, di tengah penurunan IHSG yang sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir, memang mampu mendorong saham-saham bluechips mengalami penurunan. Yang harus diperhatikan adalah sejauh mana kita mampu mengukur potensi nilai suatu saham mengalami kenaikan di masa yang akan datang. Karena sekarang sudah bukan lagi bicara mengenai valuasi semata, tapi juga bicara nilai,” jelasnya.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus

Adapun, dia menilai saham-saham yang undervalued seperti SMGR, ICBP, INDF, BMRI, EXCL, JSMR, TLKM, dan ASII.

”Saham-saham ini masih memiliki ruang untuk mengalami kenaikan sehingga direkomendasikan beli,” pungkas Nico.

Menurut dia, penurunan saham bluechips karena ada beberapa hal yang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan dalam negeri, yakni kenaikan ekspektasi inflasi di Amerika Serikat yang membuat US Treasury mengalami kenaikan. Akibatnya, memberikan tekanan capital outflow di negara berkembang tidak terkecuali Indonesia.

“Kenaikan inflasi memberikan persepsi bahwa tingkat suku bunga The Fed berpotensi mengalami kenaikan yang membuat pasar keuangan di negara berkembang bahwa The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga lebih awal,” kata dia.

Selain itu, gelombang baru virus corona yang terjadi di India dan Jepang yang berpotensi menimbulkan lockdown kembali di tengah usaha mereka untuk fokus terhadap pemulihan ekonomi yang baru seumur jagung.

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Perkembangan saham Bluechips januaro 2020-23 April 2021

Namun demikian, Nico menilai semua saham yang turun tentu bisa mengalami kenaikan. Untuk itu, dia berharap bahwa pasar dapat merespons.

“Yang harus diperhatikan adalah bukan kapan Indonesia akan pulih ekonominya, tetapi seberapa cepat perekonomian Indonesia bisa pulih. Selama Indonesia bisa mengalami pemulihan lebih cepat, tentu capital inflow akan kembali datang ke Indonesia. Jangan sampai negara lain mulai mengalami perubahan, kita masih berjibaku dengan corona, maka besar kemungkinan capital outflow akan kembali terjadi,” ungkap dia.

Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan, melemahnya saham-saham bluechips pada perdagangan pekan lalu merupakan hal yang wajar karena terdorong oleh mayoritas kinerja pergerakan indeks yang juga melemah hingga di bawah level psikologis 6.000.

“Pelaku pasar mempertimbangkan bagaimana apabila indeks turun di bawah angka psikologis 6.000. Mereka pun cenderung menahan diri, akibatnya likuiditas dan harga saham-saham berkapitalisasi besar sebagian melemah,” ujar Lucky Bayu saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, Sabtu (24/4).

Saham Bluechips Diperdagangkan di Bawah Rata-rata Valuasi 5 Tahun
Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Kendati demikian, ungkap Lucky, saham-saham tersebut ke depan akan kembali menguat seiring menguatnya kinerja indeks. Itu terbukti pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham ASII misalnya, menguat hingga 3,21% menjadi 5.625, termasuk juga saham-saham berkapitalisasi besar lainnya yang sempat melemah. Artinya, saham-saham bluechips tetap menarik di mata pelaku pasar atau investor meski sempat mengalami koreksi.

“Terkoreksinya saham-saham berkapitalisasi besar tersebut justru menjadi momentum untuk mengakumulasi. Jadi tidak hanya melihat sektornya yang secara fundamental bagus dan juga analisa lainnya terkait harga tapi juga melihat koreksinya,” ujar dia.

Apalagi, lanjut Lucky, saham-saham tersebut biasanya konsisten berkinerja baik dan membagi dividen. Dia merekomendasikan saham ASII, UNVR, BBRI, dan BBCA untuk diakumulasi pada situasi pasar saham seperti saat ini. Akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar bisa untuk tujuan investasi jangka menengah, sedangkan untuk tujuan jangka panjang lebih baik ke pilihan investasi lain, seperti obligasi, mata uang, dan aset kripto. (jn)

Baca juga

https://investor.id/market-and-corporate/saham-bluechips-sudah-undervalued

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 5 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 34 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia